Beranda Nasional Soal TBBM Dawuan, Jambul Merah: Jangan Sampai Warga Hidup Berdampingan dengan Risiko

Soal TBBM Dawuan, Jambul Merah: Jangan Sampai Warga Hidup Berdampingan dengan Risiko

33
0
Tangki BBM Dekat Rumah Warga, Jambul Merah: Jangan Sampai Aman di Atas Kertas Saja. (BULMERNEWS.id)
Tangki BBM Dekat Rumah Warga, Jambul Merah: Jangan Sampai Aman di Atas Kertas Saja. (BULMERNEWS.id)

KARAWANG, BulmerNews.ID – ‎Aktivis sosial yang dikenal dengan sebutan Jambul Merah (JM) menyatakan siap turun langsung mendukung perjuangan mahasiswa yang tengah mengadvokasi warga Desa Dawuan Barat, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang.

‎Sosok yang memiliki nama asli Ferry Alexa itu menilai gerakan mahasiswa menjadi salah satu harapan warga yang mulai gelisah dengan keberadaan Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Dawuan milik Pertamina yang berdiri tak jauh dari permukiman masyarakat.

‎Menurut JM, keberadaan fasilitas penyimpanan bahan bakar dengan risiko tinggi seharusnya diimbangi dengan perhatian serius terhadap keselamatan warga.

‎Namun yang terjadi, kata dia, justru warga lebih dulu merasa khawatir sebelum ada penjelasan yang benar-benar menenangkan.

‎“Saya mendukung mahasiswa yang melakukan pendampingan kepada masyarakat terdampak,” ujar JM, Senin (9/3/2026).

‎Ia menegaskan, pada waktu yang tepat dirinya siap turun langsung mengawal aspirasi warga. Baginya, suara masyarakat tidak boleh berhenti di pagar pembatas terminal.

‎“Nanti pada waktunya saya akan turun gunung. Jangan sampai warga hanya bisa memandang tangki BBM dari halaman rumah sambil berharap semuanya selalu baik-baik saja,” katanya.

‎JM juga menyinggung tanggung jawab besar perusahaan energi yang mengelola fasilitas dengan tingkat risiko tinggi.

‎“Perusahaan sebesar Pertamina tentu paham soal risiko. Yang jadi pertanyaan, apakah rasa aman warga juga sudah dipikirkan sebesar tangki BBM yang berdiri di sana?” ujarnya.

‎Ia menambahkan, momentum bulan suci Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk menyuarakan perjuangan masyarakat.

‎Menurutnya, bulan yang penuh refleksi seharusnya juga menjadi ruang untuk mengingatkan bahwa keselamatan warga bukan sekadar catatan teknis.

‎“Ini bulan yang baik untuk mengangkat bendera perjuangan. Setidaknya di bulan ini, kita berharap nurani juga ikut bekerja, bukan hanya mesin dan laporan,” ucapnya.

‎Sementara itu, kekhawatiran warga Dawuan Barat mencuat setelah mahasiswa dari Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Peduli Rakyat (AMPPERA) melakukan peninjauan langsung di sekitar area Terminal BBM Dawuan.

‎Koordinator AMPPERA, Yoga Muhammad Ilham S, menyebutkan dari hasil pengamatan di lapangan, jarak antara tangki penyimpanan BBM dengan permukiman warga dinilai sangat dekat.

‎Bahkan, beberapa rumah warga hanya dipisahkan oleh tembok pembatas dari area operasional terminal.

‎“Kami melihat tidak ada zona penyangga yang memadai antara fasilitas penyimpanan BBM dengan rumah warga,” kata Yoga.

‎Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran masyarakat terkait aspek keselamatan, mengingat terminal bahan bakar merupakan fasilitas dengan risiko operasional tinggi.

‎Mahasiswa bersama warga kini berupaya mendorong adanya perhatian dan langkah konkret dari pihak terkait. Sebab bagi warga, rasa aman tidak cukup hanya dijelaskan di atas kertas—apalagi jika jarak antara rumah dan tangki bahan bakar hanya dipisahkan oleh sebuah tembok.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini